
Pertanyaan pertama, pernahkah kalian berfikir, seberapa
beruntungnya kalian, saudaraku??
“Dokter, tolooong, aku susah napas” bisik seorang pemuda
yang masih sangat lemas di tempat tidurnya.
Dokter muda yang berjaga malam itu segera berlari
membawa alat bantu nafas yang sangat aku butuhkan. Hmmm, yaaa memang sejak 4
hari yang lalu, sejak aku lahir, aku sering mengalami beberapa kali episode “lupa
bernapas”, ya istilah itu yang mereka gunakan untuk bayi kecil sepertiku ya
tiba-tiba berhenti bernapas.
Namaku Ardo, usiaku baru 4 hari, aku lahir bersama
saudara kembarku Ardi. Seharusnya kita berdua masih harus tidur yang nyenyak
didalam perut ibu kami, namun takdir berkata lain, kita harus meninggalkan
tempat nyaman dan aman itu lebih cepat dibandingkan waktu yang diperkirakan.
Ardi, saudara kembarku, ia sudah kembali lebih dulu ke hadapan sang pencipta. Organ kami memang belum berkembang sempurna, suatu zat alami yang membantu kami bernapas masih belum dibuat secara sempurna. Inilah yang membuat kami sering “lupa bernapas”.
oia, pertanyaan kedua, pernahkah kalian berfikir, seberapa beruntungnya kalian wahai saudaraku?
Disini, aku harus selalu diawasi oleh dokter muda yang
jaga, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan entah sampai kapan aku harus selalu
diawasi. Hari ini saja sudah beberapa kali aku harus dipompa untuk terus
bernapas. Ingin rasanya berucap terima kasih untuk dokter muda yang selalu
mengawasiku. Oia, ibu perawat juga yang sudah merawatku 4 hari ini. Hari ini sudah
beberapa kali malaikat maut datang menghampiriku, hanya tersenyum kemudian
berbalik arah meninggalkanku.
ah, sungguh beruntung kalian saudaraku, sudah bisa menikmati dunia ini lebih dulu dan mungkin lebih lama dibandingkan aku, pernahkah kalian berfikir saudaraku?
Hari ini nampaknya sedikit berbeda, malaikat mau datang tidak sendirian, ia datang bersama Ardi.
“ aku lelah, di, hhee” sapaku. Dia hanya tersenyum tak berkata. Tiba-tiba napasku kembali berhenti, sesak sekali rasanya, aku berusaha menarik napas sebisaku, tapi tidak bisa. Aku kembali melirik kearah Ardi dan tersenyum.
ah, sungguh beruntung kalian saudaraku, sudah bisa menikmati dunia ini lebih dulu dan mungkin lebih lama dibandingkan aku, pernahkah kalian berfikir saudaraku?
Hari ini nampaknya sedikit berbeda, malaikat mau datang tidak sendirian, ia datang bersama Ardi.
“ aku lelah, di, hhee” sapaku. Dia hanya tersenyum tak berkata. Tiba-tiba napasku kembali berhenti, sesak sekali rasanya, aku berusaha menarik napas sebisaku, tapi tidak bisa. Aku kembali melirik kearah Ardi dan tersenyum.
Tak lama, jantungku berdetak lemah, kepalaku terasa sakit sekali, otakku butuh oksigen lebih, sungguh sakit rasanya.
Dokter muda itu lagi, ia kali ini datang dengan obat dalam suntikannya, setelah sebelumnya ia memijat dadaku. Kemudian obat disuntikkan ketubuhku.
Aku kembali melirik kearah Ardi, dan kini malaikat yang dari tadi menungguku muali berbicara,
“sudah waktunya nak, ikutlah dengan kami” sapanya dengan
suara yang lembut dan senyuman yang menyejukkan, dan kisahku pun berakhir.
Ini diambil dari kisah yang kami temui di tempat kami
bertugas, nama sengaja kami samarkan.
disini kami sering merasa sangat bersyukur, merasa sangat beruntung akan semua karunia yang telah tuhan berikan untuk kita.
disini kami sering merasa sangat bersyukur, merasa sangat beruntung akan semua karunia yang telah tuhan berikan untuk kita.
Pertanyaan terakhir, sudahkah kalian berfikir, seberapa
beruntungnya kalian saudaraku?
written by Khoirur rijal Ashsholih
written by Khoirur rijal Ashsholih










